Foto ; Kepala Satpol PP Provinsi Bali Dewa Nyoman Rai Dharmadi

 

Denpasar-Banyaknya pengamen menggunakan pakaian adat Bali di berbagai persimpangan di Kota Denpasar, membuat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Bali melakukan penertiban. Akan tetapi, para pengamen tersebut seakan ‘bandel’ dengan kembali mengamen menggunakan pakaian biasa.

 

Oleh karenanya, ia menghimbau kepada masyarakat yang melintas jangan memberikan sesuatu misalnya uang kepada para pengamen-pengamen tersebut. Satpol PP bukan melarang, melainkan lebih kepada membantu secara mendidik.

 

Dikonfirmasi, Kepala Satpol PP Provinsi Bali, Dewa Nyoman Rai Dharmadi menerangkan bahwa saat ini para pengamen-pengamen tersebut telah bermutasi alias merubah penampilan. Dimana, yang sebelumnya menggunakan pakaian adat Bali, kali ini berpakaian preman. “Dulunya yang menggunakan¬† busana adat, kini bermutasi berpakaian preman,” terangnya, Senin (10/01).

 

Menurutnya, perubahan pakaian yang dilakukan oleh para pengamen tak lepas dari langkah petugas Satpol PP yang tak henti-hentinya memberikan himbauan. Akhirnya, mereka memilih untuk menggunakan pakaian preman dan tak jarang berpindah lokasi mengamen.

 

Lebih lanjut, Rai Dharmadi menambahkan, apabila para pengamen-pengamen diberikan uang setiap mengamen, tentunya akan membuat semakin malas. Dan juga akan semakin menambah jumlah pengamen. “Justru jangan mereka diberi uang, karena itu tidak mendidik, hanya membuat mereka manja dan malas,” tegasnya.

 

Pihaknya meminta kepada masyarakat atau siapa pun yang ingin membantu para pengamen tersebut, agar turun langsung ke tempat tinggalnya. Hal itu dilakukan untuk mengetahui secara pasti kondisi yang sebenarnya. Nantinya, para pengamen bisa diberikan pekerjaan. “Kalau bersmpati dengan mereka lakukan batuan, seperti bantu dia modal untuk bercocok tanam atau bisa juga rekrut sebagai tukang bangunan. Kan lebih bagus kalau begitu,” harapnya.

 

Terakhir, Rai Dharmadi menceritakan, setelah menertibkan dan mengamankan para pengamen dibeberapa persimpangan jalan di Kota Denpasar, pihaknya telah memberikan sanksi sebagai bentuk efek jera. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan para pengamen akan kembali beraksi.

 

“Selama ini hanya dilakukan pembinaan saja dan sanksi sosial saja berupa nyapu di areal kantor. Untuk itu diharapkan konsistensi¬† di setiap kabupaten/ kota melakukan penertiban. Memang sudah dilakukan penertiban, tetapi secara konsisten harus patroli,” pungkasnya. Ry

SHARE THIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.