Foto ; Ketua Komisi II DPRD Bali IGK Kresna Budi (tengah)

 

Denpasar-Munculnya Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) yang menyerang hewan-hewan ternak seperti sapi dan babi membuat khawatir para peternak di Bali. Kendati sampai saat ini PMK belum ditemukan di Bali, namun perlu ada antisipasi lanjutan.

 

Komisi II DPRD Bali yang membidangi pertanian dan peternakan menegaskan agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dalam mengambil langkah sigap dalam hal antisipasi. Misalnya mencarikan solusi agar aturan sapi Bali yang sehat  boleh dibawa keluar.

 

Ketua Komisi II DPRD Bali IGK Kresna Budi mengatakan, Gubernur Bali Wayan Koster diharapkan bisa memberikan perhatian serius terkait hal ini. Apalagi, di Bali sendiri populasi sapi cukup banyak. “Justru ternak kita aman-aman saja, tapi tidak bisa dibawa ke daerah ke Jawa Timur dan Lombok,” katanya, Kamis (12/05).

 

Menurutnya, ada keterkaitan dampak yang ditimbulkan apabila tidak ada antisipasi sejak dini. Sehingga banyak ternak yang terjangkit PMK, yang kemungkinan besar akan berdampak pada perekonomian peternak. “Jadi kita sehat, mati karena tidak makan dampak dari ekonomi disebabkan dagingnya tidak bisa dijual keluar,” tegasnya.

Siap Jadi Garda Terdepan Bela Masyarakat Bawah

Selain itu, Sapi Bali memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan dengan sapi-sapi dari daerah lainnya. Lebih dari itu, pemilik sapi di Bali rata-rata masyarakat kalangan bawah. “Ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat di kalangan terbawah,” tandasnya.

 

Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Buleleng ini menambahkan, sejak awal munculnya PMK diberbagai daerah di Indonesia, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Bali. Hal tersebut dilakukan guna mengetahui langkah antisipasi apa yang akan dilakukan. Termasuk dengan solusinya. “Saya juga sudah koordinasikan dengan bapak Gubernur Bali, agar ini (peternak,red) diperjuangkan. Supaya ada bijaksana dalam aturan ini,” akunya.

 

Pihaknya juga kurang setuju apabila ada bahwa sapi Bali tidak diperbolehkan keluar sementara. Baginya aturan tersebut kurang masuk akal. Berbeda jika aturan tersebut dibalik, yakni sapi-sapi yang sakit dilarang untuk beredar dan keluar Bali. “Semestinya (sapi,red) yang sakit tidak boleh bererdar luas, dan yang sehat seharusnya boleh beredar. Kenapa ini  malah kebalik. Ini aturan yang paling gila saya tahu,” tegas pria berkacamata ini.

 

Begitu juga dengan peternak Babi. Dirinya sangat kasihan dan prihatin dengan adanya penyebaran PMK yang berimbas pada hewan ternak Babi. Baru saja para peternak babi di Bali bangkit dari penyebaran virus ASF, saat ini terancam dengan adanya PMK. “Kasihan peternak babi, gara-gara PMK sapi ikut terima getahnya. Nggak bisa keluar Bali. Padahal peternak babi yang baru saja bangkit dari virus ASF dan sudah mampu menerapkan Biosecurity yang terbaik di Indonesia juga nggak bisa keluar Bali,” ucapnya.

 

Sebagai wakil rakyat, dirinya mengaku akan menjadi garda terdepan membela masyarakat jika masyarakat terbebani dengan aturan tersebut. Jangan sampai pemerintah salah mengambil kebijakan. “Saya siap di depan demo untuk ini, karena demi rakyat Bali,” pungkasnya. Ry

SHARE THIS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.